Baru kusadari, ada yang tidak beres. Entah siapa yang memulai. Entah siapa yang salah. Aku tak ingat pernah berbuat salah, tetapi kenapa ia menjauhiku. Aneh rasanya sahabat sendiri menjauhi kita tanpa alasan. Seandainya pun aku bersalah, mengapa ia tidak mengatakannya? Mengapa ia membiarkanku terus-terusan terkurung dalam perasaan bersalah seperti ini?
Atau itu karena ia telah menemukan teman yang baru. Yang lebih baik. Ah, aku tidak boleh berpikiran buruk tentang sahabat sendiri. Ya, sahabat. Jika memang masih bisa disebut kemudian.
Kadang, di sela-sela keremangan lampu kamar , aku sering mengingat-ingat apa yang sebenarnya telah terjadi. Dulu kami tidak seperti ini. Dia hampir setiap hari menghubungiku, dan aku juga begitu. Sekalipun untuk hal-hal yang tidak penting. Bertukar info tentang lagu-lagu yang sedang kami dengarkan, bertanya tentang kuliah masing-masing, atau malah menanyakan hal-hal sepele dan klasik seperti apakah sudah makan malam, atau apakah sudah shalat. Awalnya aku tersenyum ketika mengingat itu, tetapi ketika mengingat apa yang terjadi sekarang, aku kembali merasa miris.
Entah sudah berapa kali aku mencoba menghubunginya, dan perlahan-lahan aku mulai merasa ada yang berubah dari dirinya. Rasanya seperti dia tidak suka dihubungi. Dia selalu mencari alasan untuk segera mengakhiri pembicaraan. Bahkan ketika kami bertemu di kampus, dia selalu tersenyum palsu. Senyum ketika kami berteman dulu bukan seperti itu.
Mungkin hampir setiap malam juga, aku menunggu apakah dia akan mengirimi pesan duluan. Tapi itu tidak pernah terjadi lagi. Sesaat pikiranku digiring pada suatu kesimpulan bahwa mungkin dia lagi ada masalah. Tapi kalaupun begitu, kenapa dia tidak cerita? Aku kan sahabatnya. Dulu dia sering bercerita jika ada masalah, sekalipun masalah itu sangat sepele. Dia rajin bercerita, dan karena ceritanya itulah kami semakin dekat. Dia senang bercerita kepadaku, dan aku senang mendengar ceritanya.
Untuk memastikan, aku pun menanyakan hal itu ketika jam makan siang. Sendirian aku menyapanya di kantin. Saat itu dia lagi bersama teman-temannya. Aku benar-benar tulus ketika menanyakan apakah dia baik-baik saja. Dan lagi-lagi dia menjawabnya dengan palsu. Katanya dia baik-baik saja. Sangat baik. Tapi ketika mengatakannya, dia bahkan tidak menatap mataku. Dan aku harus berbuat apa lagi? Mengatakan kepadanya bahwa aku rindu dengannya? Entahlah aku tidak tahan dengan segala ketidakpeduliannya itu. aku benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku juga muak melihat kepura-puraannya. Ingin sekali marah, tapi dia wanita. Bukan tindakan gentle juga jika seorang laki-laki memarahi wanita.
Kabarnya dia lagi dekat dengan seorang laki-laki. Dan kabarnya mereka sudah sering jalan. Atau jangan-jangan mereka sudah jadian. Aku tidak pernah tahu. Dia tidak pernah cerita. Apakah aku cemburu? Mungkin tidak. Mungkin lebih tepatnya kecewa kenapa dia tidak menceritakan kalau dia dekat dengan lelaki itu. atau memang dia tidak menganggapku sebagai teman lagi? Tetap saja aku tidak bisa mengambil kesimpulan terlalu cepat.
Beberapa minggu yang lalu aku merasa agak kacau dan aku menyadari membutuhkan seseorang untuk menangkan hatiku dan membuatku percaya bahwa semua akan berlalu. Tapi aku tidak mendapatkannya dari temanku yang ini. Dia pasti terlalu sibuk pacaran. Aku marah. Sangat marah. Kenapa ia meninggalkanku seperti ini? Kenapa ia tidak tahu ketika aku teramat sangat membutuhkannya? Kenapa ia begitu tega?
Untung saja teman baikku bukan cuma dia. Untung saja waktu itu aku punya teman-teman baik yang mau menanyakan keadaanku seperti Lia dan Ary. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan percaya dengan siapa-siapa lagi.
Berminggu-minggu diliputi kebingungan, penasaran, dan sakit hati, akhirnya kuputuskan untuk meneleponnya. Sangat sulit menemuinya dikampus. Dia selalu bersama teman-temannya. Dan selalu bertampang jutek. Aku putuskan untuk menelpon saja. Sekali, dua kali, tiga kali, tidak ada jawaban. Aku benci jika harus memutuskan untuk mengirimkan sms. Tapi tidak ada cara lain lagi. Aku mengetik pesan yang panjang. Berisi semuanya. Sekaligus permintaan maaf kalau seandainya aku berbuat kesalahan yang tidak aku sadari.
Pesan itu pun kukirim dan tiga jam waktu yang aku butuhkan untuk mendapatkan jawabannya.
Di pesannya ia menulis untuk apa minta maaf, aku tidak pernah berbuat kesalahan, semuanya baik-baik saja.
Aku langsung membalas pesannya dengan mengatakan bahwa semuanya tidak baik, ada yang tidak beres, dia berubah.
Dan itulah sms terakhir aku untuk dia sampai saat ini.
Tidak ada balasan lagi. Berhari-hari pun ditunggu. Kehilangan? Yah kehilangan itu menyakitkan. Aku ingat pernah beberapa kali kehilangan saat teman-temanku berubah drastis ketika sudah pacaran atau ketika mereka sudah berada di lingkungan baru. Menyakitkan memang. Tapi lebih menyakitkan lagi jika kita kehilangan seseorang tanpa alasan.
Aku tidak mengerti, apa makna dari semua ini?
Atau mungkin Tuhan hanya ingin menjauhkanku dari orang-orang jahat seperti dia?



0 komentar:
Posting Komentar
Mohon sarannya untuk tulisan ini